Skip to main content

Modul HAKI DASAR Hari 4: Penegakan Hukum dan Pelanggaran HAKI

 Topik Utama: Tantangan, Solusi, dan Penanganan Royalti

Tujuan Pembelajaran:

  1. Memahami mekanisme penegakan hukum HAKI di Indonesia.
  2. Mengidentifikasi tantangan dalam perlindungan HAKI.
  3. Mengetahui cara menarik royalti dari karya yang dilindungi HAKI.

1. Penegakan Hukum HAKI di Indonesia

Penegakan hukum HAKI bertujuan melindungi hak pemilik dari pelanggaran seperti pembajakan, peniruan merek, atau penggunaan tanpa izin.

Mekanisme Penegakan Hukum:

  1. Non-Litigasi (Di Luar Pengadilan):

    • Mediasi dan Negosiasi: Penyelesaian sengketa secara damai antara pihak yang bersengketa.
    • Arbitrase: Menggunakan lembaga arbitrase seperti BANI untuk penyelesaian cepat tanpa pengadilan.
  2. Litigasi (Melalui Pengadilan):

    • Ajukan gugatan ke Pengadilan Niaga untuk sengketa merek, desain industri, atau paten.
    • Proses melibatkan pemeriksaan bukti dan keputusan hakim.
  3. Laporan Pidana:

    • Pelanggaran HAKI dapat dilaporkan ke polisi karena termasuk tindak pidana.
    • Dasar hukum: UU HAKI terkait, seperti UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek.
  4. Keterlibatan DJKI:

    • DJKI dapat membantu dalam investigasi awal atau memberikan klarifikasi terkait status pendaftaran HAKI.

2. Tantangan dalam Perlindungan HAKI

  1. Kurangnya Kesadaran Masyarakat:

    • Banyak pelaku usaha atau individu yang belum memahami pentingnya HAKI.
  2. Biaya Pendaftaran yang Relatif Tinggi:

    • Biaya pendaftaran HAKI dapat menjadi hambatan, terutama bagi UMKM.
  3. Pembajakan dan Peniruan:

    • Pembajakan musik, film, atau software masih menjadi masalah besar di Indonesia.
  4. Proses yang Lama:

    • Pemeriksaan substantif oleh DJKI memerlukan waktu yang cukup panjang.

3. Royalti dalam HAKI

Hak pemilik HAKI, terutama Hak Cipta, mencakup hak ekonomi yang memungkinkan mereka mendapatkan royalti dari karya yang dimanfaatkan oleh pihak lain.

Sumber Royalti:

  1. Hak Cipta:

    • Lagu, film, software, atau buku yang digunakan atau dijual.
    • Pemilik menerima royalti dari setiap penggunaan atau reproduksi karya.
  2. Paten:

    • Invensi yang digunakan oleh perusahaan lain melalui perjanjian lisensi.
  3. Desain Industri:

    • Royalti dapat diperoleh dari desain yang diproduksi oleh pihak lain atas izin pemilik.

Mekanisme Penarikan Royalti:

  1. Perjanjian Lisensi:

    • Pemilik dan pihak pengguna membuat kontrak lisensi dengan ketentuan pembayaran royalti.
  2. Lembaga Kolektif:

    • Untuk hak cipta, karya dapat didaftarkan ke lembaga seperti KCI (Karya Cipta Indonesia) untuk pengelolaan royalti.
  3. Pengawasan Mandiri:

    • Pemilik perlu memonitor penggunaan karya dan melaporkan pelanggaran jika ditemukan.

Contoh Kasus Penarikan Royalti:

  • Musisi terkenal mendaftarkan lagunya di KCI, sehingga setiap kali lagu diputar di media publik, royalti otomatis ditarik dan disalurkan kepada musisi.

Latihan Hari Keempat

Latihan 1: Simulasi Penanganan Pelanggaran HAKI

  1. Kasus: Sebuah perusahaan menggunakan logo Anda tanpa izin.
  2. Tugas:
    • Jelaskan langkah hukum yang harus Anda ambil untuk melindungi hak Anda.
    • Tentukan apakah penyelesaian dilakukan secara litigasi atau non-litigasi.

Latihan 2: Studi Kasus Royalti

  1. Kasus: Seorang penulis buku memberikan lisensi kepada penerbit untuk memproduksi dan menjual bukunya. Penulis ingin memastikan ia mendapatkan royalti 10% dari setiap buku yang terjual.
  2. Tugas:
    • Susun poin-poin perjanjian lisensi antara penulis dan penerbit.
    • Berapa royalti yang akan diterima jika terjual 5.000 buku dengan harga Rp50.000 per buku?

Comments

Popular posts from this blog

Modul HAKI Advanced - Hari 4: Studi Kasus dan Strategi Monetisasi HAKI di Era Modern

Topik Utama: Pemanfaatan HAKI sebagai aset strategis untuk menghasilkan keuntungan di era digital dan globalisasi. Tujuan Pembelajaran: Menganalisis studi kasus monetisasi HAKI yang berhasil dan kegagalannya. Merancang strategi monetisasi HAKI berbasis teknologi modern. Memahami tren dan peluang monetisasi HAKI di masa depan. 1. Studi Kasus Monetisasi HAKI A. Kasus Sukses: LEGO dan Hak Desain Latar Belakang: LEGO mendaftarkan desain bata interlocking mereka sebagai desain industri di seluruh dunia. Setelah menghadapi tantangan dari produsen tiruan, LEGO berhasil mempertahankan hak desainnya di beberapa yurisdiksi. Strategi Monetisasi: Menggunakan hak desain untuk mencegah pesaing membuat produk serupa. Memperluas merek dengan lisensi, seperti film LEGO dan kemitraan dengan franchise lain (misalnya, Star Wars). Pembelajaran: Perlindungan HAKI yang kuat memungkinkan perusahaan mempertahankan pangsa pasar. Diversifikasi merek menciptakan peluang monetisasi baru. B. Kasus Gagal: Nokia dan...

Program Expert HAKI - Hari 3: Teknologi Canggih untuk Perlindungan HAKI

Topik Utama: Integrasi teknologi modern seperti blockchain, AI, dan NFT untuk meningkatkan perlindungan, pengelolaan, dan monetisasi HAKI. Tujuan Pembelajaran: Memahami aplikasi teknologi blockchain, AI, dan NFT dalam pengelolaan HAKI. Mengembangkan sistem otomatisasi untuk mencatat, melacak, dan melindungi aset HAKI. Menganalisis tantangan dan peluang yang muncul dari adopsi teknologi canggih di bidang HAKI. 1. Blockchain untuk Perlindungan dan Pengelolaan HAKI A. Apa itu Blockchain? Definisi: Teknologi ledger digital yang mencatat transaksi secara transparan, aman, dan tidak dapat diubah. Keunggulan: Meningkatkan kepercayaan dalam mencatat kepemilikan HAKI. Mencegah pemalsuan data kepemilikan atau distribusi. B. Aplikasi Blockchain dalam HAKI Pencatatan Hak Cipta: Blockchain digunakan untuk mencatat waktu penciptaan karya, bukti kepemilikan, dan lisensi. Contoh: Seniman mencatat karya seni mereka di platform berbasis blockchain seperti Verisart . Pelacakan Lisensi dan Royalti: Smar...